Pages

Saturday, November 1, 2008

Analisa Kimia Daun Salam



Sri handayani 66990 / 2005 Pendidikan Kimia Nr

Universitas Negeri Padang



2.1 Botani Tumbuhan
Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon salam yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai ketinggian 25 meter dan lebar pohon 1,3 meter. Pohon salam juga dapat tumbuh dipekarangan – pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang gembur. 
Daun rasanya kelat dan astrigen, daun salam biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap bumbu dapur, digunakan dalam masakan sebagai penambah aroma. Selain daun yang dipakai senagai bumbu, kulit pohonnya biasa dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan tumbuhan ini bisa dilakukan dengan biji, cangkok atau stek.
Ditinjau dari kajian saintifik juga, daun salam mengandung sejenis minyak atsiri ayng dapat menegah pertumbuhan berbagai bakteri. Untuk tujuan pengobatab tradisional, bagian yang digunakan adalah daun, selain itu kulit, batang, akar, dan buah juga berkahsiat sebgai obat.
Daun salam mengandung minyak atsiri (sitral, eugenol), tanin dan flavonoid. Dengan kromatografi lapis tipis disimpulkan bahwa minyak atsiri daun salam dari seskuiterpen lakton yang mengandung fenol. Konsentrasi terkecil minyaka atsiri yang mampu menghambat pertumbuhan E. Coli adalah 40% sedangkan terhadap S. Areus sekitar 5%. Uji mikrobiologi dengan menggunakan metode cakram menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat bakteri E. Coli, Vibrio Chaera, Salmonela sp dan ekstrak air daun salam memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar gula).

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae (tumbuhan) 
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida 
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae 
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum Wigh Walp
Gambar 1. Daun Salam

Khasiat untuk obat
• Menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi
Cuci 10-15g daun salam segar sampai bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus di malam hari. Lakukan pengobatan ini setiap hari.

• Sakit maag
Daun salam segar sebanyak 15-20 lembar dicuci bersih. Rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau secukupnya. Setelah dingin, minum airnya sebagai teh. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh dilambung hilang.

• Diare
Cuci 15 lembar daun salam segar samapi bersih. Tambahkan 2 gelas air, lalu rebus sampai mendidih (Selama 15 menit). Selanjutnya masukkan sedikit garam. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus.

• Kencing manis
Cuci 7-15 lembar daun salam segar, lau rebus dalam 3 gelas air samapai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus sebelum makan. Lakukan sehari 2 kali.

• Khasiat lainnya : mengatasi asam urat yang tinggi, stroke, melancarkan peredaran darah,radang hidung, gatal – gatal dan mabuk alkohol.

2.2 Senyawa Metabolit Sekunder
a. Alkaloid
Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jika digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tidak bewarna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal hanya sedikit yang berbentuk cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar.
Secara umum, golongan senyawa alkaloid mempunyai sigat – sifat sebagai berikut :
a. Biasanya merupakan kristal tak bewarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik seperti etanol, eter dan kloroform.
b. Bersifat basa, pada umumnya beberapa pahit, bersifat racun, mempunyai efek fisiologis secara optis aktif.
c. Dapat membentuk endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolibdat, asam pikrat, kalium merkuriiodida dan lain sebagainya. Dari endapan – endapan ini, banyak juga yang memiliki bentuk kristal yang khusus sehingga sangat bermanfaat dalam identifikasinya.
Senyawa alkaloid dapat diklasifikasikan dari gugus fungsi yang dikandungnya : (Rangke, 1998 : 133) 
a. Alkaloid feniletamin, misalnya efedrin.
b. Alkaloid pirolidin, misalnya higrin dari koka.
c. Alkaloid piridin, misalnya asam nikotinat.
d. Alkaloid perpaduan pirolidindan piridin, misalnya nikotin.
e. Alkaloid kuinolin, misalnya kuinin.
f. Alkaloid isokuinolin, misalnya papaverin.
g. Alkaloid fenantrena, misalnya emetin.
h. Alkaloid indole yang masih dapat digolong – golongkan menjadi :
a) Alkaloid sederhana, misalnya triptamin.
b) Alkaloid ergot, misalnya serotonin.
c) Alkaloid hermala, misalnya β-karbolin.
d) Alkaloid yahimbe, misalnya reserpin.
e) Alkaloid strychnos, misalnya brusin dan strinkin.

b. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok yang termasuk ke dalam senyawa fenol yang terbanyak dialam, senyawa-senyawa flavonoid ini bertanggung jawab terhadap zat warna ungu, merah, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Berdasarkan strukturnya senyawa flavonoid merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. 
Flavonoid dalam tumbuhan mempunyai empat fungsi :
a) Sebagai pigmen warna
b) Fungsi patologi dan sitologi
c) Aktivitas farmakologi
Dianggap berasal dari rutin (glikosida flavonol) yang digunakan untuk menguatkan susunan kapiler, menurunkan permeabilitas dan fragilitas pembuluh darah dll. Gabor et al menyatakan bahwa flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam – macam bioaktivitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.
d) Flavonoid dalam makanan.

c. Terpenoid
Banyak tumbuhan (bunga, daun, buah, biji atau akar) yang berbau harum. Bau harum itu berasal dari senyawa yang terdiri dari 10 dan 15 karbon yang disebt terpen. Golongan senyawa ini dapat dipisahkan dari tumbuhan sumbernya melalui destilasi uap atau secara ekstraksi dan dikenal dengan nama minyak atsiri. Beberapa contoh minyak atsiri, misalnya minyak yang diperoleh dari cengkeh, bunga mawar, serai (sitronela), cukaliptus, pepermint, kamfe, sedar (tumbuhan cedrus) dan terpentin. Senyaea organik bahan alam golongan minyak atsiri sangat banyak digunakan dalam industri wangi – wangian (perfumery), makanan dan obat – obatan.
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 (unit isopren), yang bergabung secara head to tail (kepala – ekor). Terpenoid sama halnya dengan senyawa terpen tapi mengandung gugus fungsi lain seperti gugus hidroksil, aldehid dan keton. Dewasa ini terpen maupun terpenoid dikelompokkan sebagai senyawa terpenoid ( isoprena).
Berdasarkan jumlah unit isoprena yang dikandungnya, senyawa terpenoid terbagi atas :
a. Monoterpena (dua unit isoprena)
b. Seskuiterpena (tiga unit isoprena)
c. Diterpena (empat unit isoprena)
d. Triterpena (enam unit isoprena)
e. Tetraterpena (delapan unit isoprena)
Monoterpen dan seskuiterpen adalah komponen utama minyak essensial (minyak atsir) yang dapat diperoleh dengan penyulingan. Vitamin A adalah suatu diterpenoid, skualen tergolong triterpenoid yang dijumpai dalam minyak atsiri hati ikan, karoten – karoten pigmen merah dan kuning tergolong tetraterpen, lateks (karet alam ) adalah politerpen.

d. Steroid
Secara sederhana steroid dapat dioartkan sebagai kelas senyawa organik bahan alam yang kerangka strukturnya terdiri dari androstan (siklopentanofenantren), mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu. 
Sebagian besar dari steroid mempunyai sifat sebagai berikut: 
• Mengandung gugus fungsi oksigen (sebagai = O atau OH) pada C3
• Mengandung gugus samping pada C17
• Banyak yang mengandung ikatan rangkap C4 – C5 atau C5 – C6 
Beberapa steroid penting adalah kolesterol, yaitu steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai pada hampir semua jaringan hewan. Batu kandung kemih dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Hormon-hormon seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung man seks yang dihasilkan terutama dalam testes dan indung telur adalah suatu steroid. Hormon jantan disebut androgen dan hormon betina estrogen, dan hormon kehamilan progestin. 

e. Saponin
Saponin merupakan suatu senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon), saponin ini terdiri dari dua kelompok : saponin triterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan untuk bahan pencucui kain (batik) dan sebagai shampo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui metode ekstraksi.
Pembahasan
1. Identifikasi Alkaloid
Pada identifikasi alkaloid ini digunakan metoda Culvenor – Fitzgerald. Filtrat yang diperoleh dengan cara marajang halus dan menggerus sampel dalam lumpang kemudian ditambahkan amoniak – kloroform 0,05 N, larutan H2SO4 diuji dengan beberapa pereaksi (Mayer, Wagner dan Dragendorf). Berdasakan data yang diperoleh, diketahui bahwa daun salam tidak mengandung alkaloid. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya endapan putih keruh dengan pereaksi Mayer atau endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendor. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada. 



2. Identifikasi Flavonoid
Pada identifikasi flavonoid, sampel juga dirajang halus kemudian di ekstrak dengan metanol dan dipanaskan selama 5 menit. Ketika pada penambahan berikutnya yaitu penambahan beberapa tetes asam klorida dan sedikit serbuk Mg. Pada tabung reaksi yang dipanaskan terlihat perubahan warna menjadi merah, akibat dari sampel yang telah dirajang halus bewarna hijau ditambah metanol yang larutannya bening dan dingin. Keduanya bereaksi dalam tabung reaksi yang dipanaskan beberapa menit, reaksi keduanya terbentuklah perubahan earna menjadi merah. Flavonoid mempunyai banyak fungsi seperti : sebagai pigmen warna, fungsi fisiologi dan patologi, fungsi farmakologi dan flavonoid dalam makanan, antiflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.

3. Identifikasi steroid/terpenoid
Pada identifikasi steroid, lapisan kloroform yang diperoleh pada uji alkaloid ditempatkan pada plat tetes dan dikeringkan. Kemudian ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Pada percobaan diperoleh warna biru pada plat tetes. Untuk melihat warna biru pada plat tetes membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama, terbentuknya warnapun akan lama. Pembentukkan warna biru dapat diamati pada bagian pinggir lingkaran bagian plat tetesnya. Saat benar – benar kering baru ditambah H2SO4 barulah tampak warna birunya. Hasil ini menunjukkan bahwa daun salam mengandung steroid dan menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung terpenoid.

4. Identifikasi Saponin
Pada identifikasi saponin, dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah dikeringkan untuk kemudian dihaluskan. Lalu ditambahkan dengan air suling dan dididihkan selama 2 – 3 menit. Lalu didinginkan, setelah dingin di kocok kuat – kuat. Pada pengocokkan yang dilakukan terbentuk busa. Namun busa yang terbentuk tidak permanen, karena busa tersebut cepat hilang. Adanya busa yang tidak permanen tersebut menunjukkan bahwa daun salam tidak mengandung saponin.
5.1 Kesimpulan 
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa daun salam mengandung berbagai senyawa – senyawa kimia bermanfaat seperti flavonoid dan steroid. 
Senyawa – senyawa yang dikandung daun salam ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Penggunaan daun salam dalam bidang kesehatan adalah untuk pengobatan, kolesterol tinggi, kening manis, tekanan darah tinggi, radang lambung, maag, diare dll.
Senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun salam adalah flavonoid dan steroid, hal ini dapat dibuktikan dengan tes positif saat melakukan percobaan. 

5.2 Saran
Untuk paper ini disarankan dalam pengidentifikasikan senyawa – senyawa dalam daun salam bila harus menggunakan tanaman yang segar, diharapkan diambil beberapa saat sebelum pengidentifikasian. Tidak dibiarkan selama berjam – jam karena bisa saja senyawa yang sebenarnya ada dalam tanaman tidak teridentifikasi karena senyawanya sudah rusak. Namun selain itu, praktikan juga harus teliti dalam mengidentifikasi senyawa organik senyawa organik bahan alam. 
Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
L. Tobing, M.Sc., Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Muhlisah, Ir. Fauziah. 1996. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Pratikum Kimia Organik 2. Padang: FMIPA UNP.


pan> b @W� �� orphans: 2;text-align:-webkit-auto; widows: 2;-webkit-text-size-adjust: auto;-webkit-text-stroke-width: 0px; word-spacing:0px'> 

2. Identifikasi Flanoid : Sianidin test 

0,5 gram sampel 
diekstrak dengan 5 ml metanol
dipanaskan selama 5 menit
ekstrak
+ beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk Mg 
merah / pink atau kuning
(sampel mengandung flavonoid) 
3. Identifikasi steroid/terpenoid : Metode Liebermen – Burchard 
lapisan kloroform pada uji alkaloid
ditempatkan pada plat tetes
+ 5 tetes anhidrida asam asetat 
dibiarkan mengering
+ 3 tetes H2SO4 pekat 
warna merah jingga / ungu : tes positif untuk terpenoid
warna biru : tes positif untuk steroid

4. Identifikasi saponin : uji busa 
Sampel kering dirajang halus
Dimasukkan kedalam tabung reaksi
+ air suling
dididihkan 2 – 3 menit
didinginkan
dikocok kuat - kuatdirajang halus
Adanya busa stabil selama 5 menit
Uji Pereaksi Hasil Keterangan
Alkaloid Mayer
Wagner Dragendorf - -
Flavonoid HCl pekat dan serbuk magnesium + Terjadi perubahan warna sampl menjadi kuning.
Steroid/terpenoid Anhidrida asetat dan H2SO4 pekat - -
Saponin Air suling - -
4.2 Pembahasan
1. Identifikasi Alkaloid
Pada identifikasi alkaloid ini dimana terjadi perubahan warna Dari eksperimen yang dilakukan terhadap daun selasih, tes ini menunjukkan hasil yang negatif karena tidak terbentuk endapan putih/keruh dengan pereaksi mayer, tidak terbentuk endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendorf . Hal ini menunjukkan bahwa sampel tidak mengandung alkoloid. Ini sesuai dengan yang tertera dalam kandungan kimia dari daun selasih. 
2. Identifikasi Flavonoid
Pada identifikasi flavonoid, sampel daun dewa juga dirajang halus kemudian diekstrak dengan metanol dan dipanaskan selama 5 menit. Pada penambahan berikutnya, tetesan klorida dan sedikit serbuk Mg. Ekatrak daun dewa yang semula bewarna hijau berubah warnya menjadi kuning kemerahan. Dengan terjadinya perubahan warna tadi menandakan bahwa daun dewa mengandung flavonoid. Hal ini sesuai dengan literatur yang didapat.
3. Idetifikasi Steroid/Terpenoid
Pada eksperimen akan dihasilkannya warna jingga/ ungu yang menandakan uji positif terhadap terpenoid dan warna biru menunjukkan uji positif untuk steroid. Hasil yang didapatkan yaitu negatif karena tidak terbentuk warna jingga/ungu ataupun biru. Dari hasil eksperimen dengan teoritis didapatkan kecocokan, bahwa pada daun selasih tidak mengandung steroid dan terpenoid. 
4. Identifikasi Saponin
Pada eksperimen ini dihasilkan busa yang relatif banyak setelah dilakukan pengocokan kuat pada larutan sampel. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa daun dewa tidak mengandung saponin, ini ditunjukan dengan hasil yang negatif. Selain membentuk busa yang stabil, saponin juga mempunyai rasa yang pahit, toksik dan membentuk senyawaan dengan kolesterol.
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa: 
1. Tanaman selasih tidak mengandug alakloid yang ditandai dengan tidak terbentuknya endapan setelah direaksikan dengan beberapa pereaksi. 2. Tumbuhan selasih mengandung flavonoid yang ditandai dengan perubahan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink. 3. Tumbuhan selasih tidak mengandung steroid atau terpenoid.
4. Tumbuhan selasih mengandung saponin karena tidak terbentuk busa.
5.2 Saran: 1. Sebaiknya pengujian dilakukan pada tanaman obat jenis lainnya yang belum pernah diteliti sehingga diperoleh informasi yang lebih banyak. 2. Untuk identifikasi senyawa-senyawa metabolit sekunder sebaiknya sampel yang digunakan adalah tanaman yang segar. 3. Sampel harus dirajang dahulu kalau bisa di gerus agar senyawa – senyawa yang terdapat didalam sampel keluar dan pada saat penambahan reaksi kimia harus hati – hati agar hasilnya maksimal
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Terjemahan Suminar Achmad. Jakarta: Erlangga.
L. Tobing, M.Sc., Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Pratikum Kimia Organik 2. Padang: FMIPA UNP.
http://www.google.com/daun selasih.htm

Analisa Kimia Daun Selasih





Dona Yunilda Fahmi 

66962/2005 Pendidikan Kimia Nr Jurusan Kimia 

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam 
Universitas Negeri Padang 2007


2.1. Botani Tumbuhan
Tanaman selasih merupakan tanaman dikotil yang tergolong tanaman yang melakukan fotosintesis (Siklus Calvin). Pada siang hari dengan mengubah RUBP dan CO2 dengan bantuan enzim menjadi amilum yang akhirnya di salurkan keseluruh tubuh tumbuhan melalui jaringan floem. Untuk pemenuhan nutrisi kelebihannya disimpan oleh tanaman sebagai pati yang juga digunakan kembali untuk proses respirasi tumbuhan.
Selasih merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh rimbun. Selasih tumbuh di suatu kawasan yang lapang seperti kawasan pertanian. Bentuk batang selasih bulat dan bercabang banyak, mempunyai tinggi 50 – 80 cmdan bentuk daun adalah tunggal. Tumbuhan ini mudah membiak dari biji benih yang tersebar di sekitarnya.
Selasih mempunyai enam kuntum bunga, megikuti urutan dari atas ke tengah. Kelopak bunganya bewarna hijau keunguan dan bagian atas bunganya bewarna putih atau merah jambu pucat. Selasih mempunyai bau yang khas dan harum. Selain juga dipenggil ruku – ruku atau ruku – ruku hitam.
Jenis selasih yang sering di jumpai adalah kemangi. Kemangi ada yang berdaun agak keriting dan ada pula mempunyai daun yang agak kecil dan sering di makan sebagai ulam.
Sifat dan Manfaat
Selasih bersifat mendinginkan dan berbau harum yang berfungsi merawat demam, meredakan muntah – muntah, mengobati cacingan, mengirangi ketegangan (stres), sebagai obat batuk, pencuci darah, sebagai obat luka. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid).
Manfaat selasih yang lain adalah meningkatkan pengeluarana bendalir badan melalui air kencin karena bersifat diuretik; sifat analgesik yang membantu menahan atau meredakan sakit kepala, sakit gigi, sakit perut demam; sifat diaforetik yang membantu pengeluaran keringat. Biji selasih bermanfaat untuk menurunkan kolesterol, membantu pencernaan, mengobati kram usus dan melancarkan buang air besar.
Kandungan
Selasih mengandung eugenol, linalool, dan geraniol yang dikenal sebagai zat penolak serangga sehingga zat – zat tersebut juga berfungsi sebagai pengusir nyamuk. Bau daun selasih sangat tajam bahkan jika tercium agak lama atau disimpan dalam ruangan dapat menimbulkan rasa mual dan pening.
Komponen – komponen utama selasih yang bersifat volatil (menguap) menyebabkan nyamuk enggan mendekati tanaman. Selasih juga mengandung beta – pinene, estragol, flavonoid, dan tanin sehingga bisa di buat minyak atsiri. Yang mana komponen utama penyusun minyak atsiri adalah senyawa organik yang merupakan hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai gugus karbonil dan mempunyai Rf hampir sama dengan haraga Rf senyawa eugenol.
Klasifikasi tanaman selasih
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta 
Class : Magnoliopsida 
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae 
Genus : Ocimum 
Species : Ocimum basilicum
2.2. Metabolit Sekunder
Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Tumbuhan tumbuh dan kecil menjadi besar dan berkembang dari satu sel zigot menjadi embrio kemudian menjadi satu individu yang mempunyai akar, daun, batang, bunga dan buah.
Dewasa ini yang dimaksud senyawa organik bahan alam adalah terbatas pada senyawa-senyawa yang dikenal sebagai metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa-senyawa hasil metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup, dan ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan (terutama tumbuhan tinggi), pada akar, kulit batang, daun, bunga, buah dan biji, dan sedikit pada hewan. 
1. Alkaloid
Alkaloid pada umumnya mencakup semua senyawa yang bersifat basa atau alkali, mengandung satu atau lebih atom nitrogen dan biasnya merupakan bagian dari sistem siklis. Pada tahun 1896, Meyer – Lexikon memberikan batasan alkaloid sebagai berikut : “Alkaloid terjadi secara karakteristik dalam tumbuhan dan sering dikenal karena aktivitas fisiologisnya. Alkaloid mengandung C, H dan N dan pada umumnya mengandung atom O.
Senyawa alkaloid banyak terkandung dalam akar, biji, kayu maupun daun dari tumbuh – tumbuhan. Senyawa alkaloid dapat dipandang sebagai hasil metabolisme dari tumbuhan atau dapat berguna sebagai cadangan bagi biosintesis protein. Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuh – tumbuhan dan pengatur kerja hormon. 
Alkaloid termasuk senyawa organik bahan alam yang terbesar jumlahnya,baik dari segi jumlah senyawa maupun sebarannya dalam dunia tumbuhan. Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang bersifat basa, mengandung atom nitrogen berasal dari tumbuhan dan hewan. Harborne dan turner (1984) mengungkapkan bahwa tidak satupun definisi alkaloid yang memuaskan, tetapi umumnya alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang besifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen biasnya dalm cincin heterosiklik, dan bersifat aktif biologis menonjol. 
Struktur alkaloid beraneka ragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Satu dari yang tersederhana strukturnya, tetapi yang efek faalinya tidak sederhana, adalah nikotina. Dalam dosis tinggi nikotina bersifat toxik, dan pernah digunakan sebagai insektisida. Alakaloid marupakan bahan tumbuhan yang mengandung nitrogen, larut dalam air. Alkaloid yang lazim adalah nikotina, morfina, kodeina dan atropina. 
Alkaloid sangat penting dalam industri farmasi karena kebanyakan alkaloid mempunyai efek fisiologis. Pada umumnya alkaloid tidak ditemukan dalam gymnospermae, paku – pakuan, lumut dan tumbuhan rendah.
Pembagian alkaloid : a. Didasarkan pada jenis gugus kromofor yang berbeda, misalnya alkaloid indol, isokuinolin atau kuinolin. b. Didasarkan tumbuhan asal pertama kali ditemukan, misalnya alkaloid tembakau c. Didasarkan jenis ikatan yang predominan dalam alkaloid tersebut.
Pembagian alkoloid yang lain adalah: a. Alkoloid heterosiklis; b. Alkaloid dengan eksossiklis dan amina alifatis; c. Alkaoid putreskin, spermidin dan spermin; d. Alkaloid peptida; e. Alkaloid terpen dan steroidal.
2. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula.
Beberapa fungsi flavonoid bagi tumbuhan adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus, kerja terhadap serangga, fitoaleksin merupakan komponen abnormal yag hanya dibentuk sebagai tanggapa terhadap infeksi atau luka dan kemudian menghambat fungus menyerangnya, mengimbas gen pembintilan dalam bakteria bintil nitrogen.
Dalam makanan flavonoid dapat menurunkan agregasi platelet dan mengurangi pembekuan darah. Pada kulit, flavonoid menghambat pendarahan. Xanton dan flavonoid oligomer dalam makanan mempunyai efek antihipertensi karena menghambat enzim pengubah-angiotensin.
Peran flavonoid yang merugikan adalah kuersetin yang bersifat mutagen pada uji ames, tetapi flavonoid lain bekerja sebagai antimutagen. Isoflavon merangsang pembentukan estrogen pada mamalia.
Flavonoid dapat dikelompokkan berdasarkan rantai C3 yaitu :
a. Katekin dan proantosianidin
Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa yang mempunyai banyak kesamaan, terdapat pada tumbuhan kayu. Katekin ditemukan dalam paku-pakuan dan dua spesies Equisetum. Tiga jenis katekin yaitu katekin (+) dan katekin (-) hidrogen-2 dan hidrogen-3 nya trans. Beberapa katekin terdapat sebagai ester asam galat. Proantosianidin adalah senyawa yang membentuk antosianidin jika dipanaskan dengan asam.
b. Flavanon dan flavanonol
Bewarna kuning sedikit karena kosentrasinya rendah. Flavanon sering terjadi sebagai aglikon tetapi beberapa glikosidanya dikenal sebagai hesperidin dan naragin dari kulit jeruk. Flavononol merupakan flavonoid yang paling kurang dikenal, senyawa ini stabil dalam asam klorida panas tetapi terurai oleh basa hangat menjadi kalkon.
3. Terpenoid
Senyawa terpen pada awalnya merupakan suatu golongan senyawa yang hanya terdiri dari atom C dan H, dengan perbandingan 5 : 8 dengan rumus empiris C5H8 ( unit isprena ), yang bergabung secara head to tail ( kepala – ekor).
Banyak terpenoid terdapat secara alami dalam tumbuhan tidak dalam keadaan bebas tetapi sebagai ester atau glikosida.
Berdasarkan jumlah atom karbon, terpenoid dikelompokkan menjadi monoterpen (C = 10), seskuiterpen (C = 15), diterpen (C = 20), triterpen (C = 30), tetraterpen (C = 40), dan politerpen (C > 40).
a. Monoterpenoid
Monoterpenoid merupakan komponen utama banyak minyak atsiri dan mempunyai makna ekonomi yang besar sebagai bau – rasa, wewangian, dan pelarut. Beberapa senyawa bersifat aktif optik. Sebagian besar dari senyawa ini tersebar luas dan tidak khas untuk tumbuhan atau golongan tumbuhan tertentu. Meskipun adanya monoterpenoid dalam tumbuhan tercatat dengan baik publikasi mengenai adanya minyak atsiri yang mengandung terpenoid dalam dunia tumbuhan sampai ke bryofita dan bahkan terpencar – pencar.
Senyawa terpenting dalam golongan ini ialah limonena karena tersebar luas dan mempunyai nilai niaga. Senyawa ini merupakan utama minyak kulit jeruk tetapi terdapat juga dalam minyak atsiri lainnya. 
b. Seskuiterpenoid
Seskuiterpenoid adalah senyawa C15, biasanya dianggap berasal dari tiga satuan isoprena. Seperti monoterpenoid seskuiterpenoid terdapat sebagai komponen minyak atsiri yang tersuling uap, dan berperan penting dalam memberi aroma kepada buah dan bunga yang kita kenal. 
c. Diterpenoid
Diterpenoid merupakan senyawa C20 yang secara resmi dianggap (dengan beberapa pengeculiaan) berasal dari empat satuan isoprenoid. Karena titik didihnya yang tinggi, biasanya diterpenoid tidak ditemukan dalam minyak atsiri tumbuhan meskipun beberapa diterpenoid yang bertitik didih rendah mungkin. Senyawa ini ditemukan dalam damar, eksudat berupa gom, dan dalam fraksi bertitik didih tinggi setelah penyulingan minyak atsiri. 
d. Triterpenoid
Karena sesterpenoid C25 sangat jarang terdapat dalam tumbuhan tingkat tinggi, meskipun memang ada (80), ada kerumitan yang sangat meningkat jika kita memperhatikan senyawa mulai dari diterpenoid sampai triterpenoid C30.
4. Steroid
Steroid adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar siklopentanaperhidrofenantrena, mempunyai empat cincin terpadu. Senyawa – senyawa ini mempunyai efek fisiologis tertentu. Steroid meliputi empat golongan, yaitu kolesterol, hormon, adrenokortikoid, hormon seksual, dan asam empedu.
Kolesterol ditemukan dalam semua organisme dan merupakan bahan awal untuk pembentukan asam empedu, hormon steroid, dan vitamin D. Walaupun kolesterol esensial bagi mahluk hidup, tapi berimplikasi terhadap pembentukan ‘plek’ pada dinding pembuluh nadi (suatu proese yang disebut arteosclerosis, atau pengerasan pembuluh), bahkan dapat mengakibatkan penyumbatan. Gejala ini penting terutama dalam pembuluh yang memasok darah ke jantung. Penyumbatan pada pembuluh ini menimbulkan kerusakan jantung, yang pada gilirannya dapat menimbulkan kematian akibat serangan jantung.
Steroid “hewan” yang khas, kolesterol, terdapat pada lipid permukaan dan organel tumbuhan, tetapi seringkali tidak ditemukan karena senyawa ini terdapat sebagai ester dan glikosida yang tidak larut dalam pelarut yang biasa dipakai untuk sterol bebas.
5. Saponin
Saponin mula – mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun ( bahasa latin sapo berarti sabun ). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuhan mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus – ratus tahun.
Dikenal dua jenis saponin : glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Aglikonnya, disebut sapogenin, diperoleh dengan hidrolisis dalam suasana asam atau hidrolisis memakai enzim, tanpa bagian gula ciri kelarutannya sama dengan ciri sterol lainnya.
Saponin triterpenoid dapat mempunyai asam oleanolat sebagai aglikonnya, dan asam ini ditemukan juga bebas. Meskipun demikian, dalam beberapa kasus aglikon hanya dikenal sebagai sapogenin. Sapogenin jenis oleanan jauh lebih umum daripada jenis ursana atau jenis lupana.
A. Waktu Pelaksanaan Penelitian
Hari : Jumat 
Tanggal : 23 November 2007 
Waktu : 07.00 – 09.40 WIB 
B. Sampel Penelitian
• Daun Selasih
C. Alat dan Bahan 
Alat : Lumpang, pisau/gunting, plat tetes, tabung reaksi, pipet tetes, corong, pemanas, pasir halur bersih, kapas. 
Bahan : Daun selasih hijau, amoniak – kloroform (NH3-CHCLl) 0.05 N, H2SO4 2N, pereaksi mayer, pereaksi wagner dan Dragendorf, metanol, asam sulfat pekat, anhidrida asetat, asam klorida pekat sebuk magnesium. 
D. Prosedur Kerja 
1. Identifikasi Alkoloid : Metoda Culvenor - Fitzgerald 
4 gram sampel segar dirajang halus dan digerus
+ kloroform
digerus lagi
membentuk pasta
+ 10 ml larutan ammonia-kloroform 0,05 N
digerus lagi
disaring dimasukkan tabung reaksi
filtrat
+ 5 ml H2SO4 2N, dikocok kuat
didiamkan larutan
terbentuk 2 lapisan 
dipipet dimasukkan tabung reaksi
filtrat + pereaksi Mayer : endapan putih
+ pereaksi Wagner : endapan coklat
+ pereaksi Dragendorf : endapan orange
Mayer : endapan putih
Wagner : endapan coklat
Dragendorf : endapan orange

2. Identifikasi Flanoid : Sianidin test 
0,5 gram sampel 
diekstrak dengan 5 ml metanol
dipanaskan selama 5 menit
ekstrak
+ beberapa tetes HCl pekat dan sedikit serbuk Mg 
merah / pink atau kuning
(sampel mengandung flavonoid) 
3. Identifikasi steroid/terpenoid : Metode Liebermen – Burchard 
lapisan kloroform pada uji alkaloid
ditempatkan pada plat tetes
+ 5 tetes anhidrida asam asetat 
dibiarkan mengering
+ 3 tetes H2SO4 pekat 
warna merah jingga / ungu : tes positif untuk terpenoid
warna biru : tes positif untuk steroid

4. Identifikasi saponin : uji busa 
Sampel kering dirajang halus
Dimasukkan kedalam tabung reaksi
+ air suling
dididihkan 2 – 3 menit
didinginkan
dikocok kuat - kuatdirajang halus
Adanya busa stabil selama 5 menit
Uji Pereaksi Hasil Keterangan
Alkaloid Mayer
Wagner Dragendorf - -
Flavonoid HCl pekat dan serbuk magnesium + Terjadi perubahan warna sampl menjadi kuning.
Steroid/terpenoid Anhidrida asetat dan H2SO4 pekat - -
Saponin Air suling - -
4.2 Pembahasan
1. Identifikasi Alkaloid
Pada identifikasi alkaloid ini dimana terjadi perubahan warna Dari eksperimen yang dilakukan terhadap daun selasih, tes ini menunjukkan hasil yang negatif karena tidak terbentuk endapan putih/keruh dengan pereaksi mayer, tidak terbentuk endapan coklat dengan pereaksi Wagner dan endapan orange dengan pereaksi Dragendorf . Hal ini menunjukkan bahwa sampel tidak mengandung alkoloid. Ini sesuai dengan yang tertera dalam kandungan kimia dari daun selasih. 
2. Identifikasi Flavonoid
Pada identifikasi flavonoid, sampel daun dewa juga dirajang halus kemudian diekstrak dengan metanol dan dipanaskan selama 5 menit. Pada penambahan berikutnya, tetesan klorida dan sedikit serbuk Mg. Ekatrak daun dewa yang semula bewarna hijau berubah warnya menjadi kuning kemerahan. Dengan terjadinya perubahan warna tadi menandakan bahwa daun dewa mengandung flavonoid. Hal ini sesuai dengan literatur yang didapat.
3. Idetifikasi Steroid/Terpenoid
Pada eksperimen akan dihasilkannya warna jingga/ ungu yang menandakan uji positif terhadap terpenoid dan warna biru menunjukkan uji positif untuk steroid. Hasil yang didapatkan yaitu negatif karena tidak terbentuk warna jingga/ungu ataupun biru. Dari hasil eksperimen dengan teoritis didapatkan kecocokan, bahwa pada daun selasih tidak mengandung steroid dan terpenoid. 
4. Identifikasi Saponin
Pada eksperimen ini dihasilkan busa yang relatif banyak setelah dilakukan pengocokan kuat pada larutan sampel. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa daun dewa tidak mengandung saponin, ini ditunjukan dengan hasil yang negatif. Selain membentuk busa yang stabil, saponin juga mempunyai rasa yang pahit, toksik dan membentuk senyawaan dengan kolesterol.
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa: 
1. Tanaman selasih tidak mengandug alakloid yang ditandai dengan tidak terbentuknya endapan setelah direaksikan dengan beberapa pereaksi. 2. Tumbuhan selasih mengandung flavonoid yang ditandai dengan perubahan warna sampel dari hijau menjadi terang atau agak warna pink. 3. Tumbuhan selasih tidak mengandung steroid atau terpenoid.
4. Tumbuhan selasih mengandung saponin karena tidak terbentuk busa.
5.2 Saran: 1. Sebaiknya pengujian dilakukan pada tanaman obat jenis lainnya yang belum pernah diteliti sehingga diperoleh informasi yang lebih banyak. 2. Untuk identifikasi senyawa-senyawa metabolit sekunder sebaiknya sampel yang digunakan adalah tanaman yang segar. 3. Sampel harus dirajang dahulu kalau bisa di gerus agar senyawa – senyawa yang terdapat didalam sampel keluar dan pada saat penambahan reaksi kimia harus hati – hati agar hasilnya maksimal
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Terjemahan Suminar Achmad. Jakarta: Erlangga.
L. Tobing, M.Sc., Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Tim Kimia Organik. 2007. Penuntun Pratikum Kimia Organik 2. Padang: FMIPA UNP.
http://www.google.com/daun selasih.htm